Seruni Bodjawati: Melukis, Museum dan Semangat Kehidupan

Seruni Bodjawati

Nama Seruni bermakna golden flower atau bunga emas. Sedangkan Bodjawati diambil dari nama belakang almarhum neneknya yang bernama Sangkelat Bodjawati. Ia adalah seniman/pelukis sekaligus entrepreneur lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) dari jurusan S1 Bachelor of Fine Art yang mendapat predikat cum laude ketika sarjana serta menyelesaikan S2 Master of Fine Art. Lukisan pertama Seruni Bodjawati dibuat ketika ia berusia 10 bulan hingga sampai sekarang Seruni telah meraih banyak penghargaan seni dan memamerkan lukisan dan gambarnya di Jepang, Hong Kong, Korea Selatan, Singapura, Selandia Baru, Prancis, Inggris, Hongaria, Jerman, Australia, Italia, Spanyol, Slovakia, dan AS.

Seruni Bodjawati

Pada tahun 2011 ia terpilih sebagai salah satu Indonesian Young Heroes oleh Aplaus The Lifestyle Indonesia untuk prestasinya di kancah seni internasional. Kemudian tahun 2012 ia dianugerahi penghargaan sebagai The Most Inspiring Woman in Art and Culture oleh majalah Kartini Indonesia dan Ibu Negara Indonesia Ani Yudhoyono.
Seruni juga memproduksi film-film seni, menjadi Duta Museum di tahun 2015, membuat teater Wayang Jawa serta menulis puisi, cerita pendek, dan esai. Dan pada tahun 2016, ia masuk dalam 50 Putera Puteri Terbaik Indonesia versi The Power of Climatrix.

Project inovasi yang saat ini ia lakukan adalah menyelesaikan 25 lebih lukisan tentang tokoh-tokoh perempuan Indonesia yang akan dipamerkan di Galeri Cemara 6 Jakarta pada pertengahan 2019. Lukisan-lukisan ini kelak dibukukan untuk menjadi sarana pembelajaran generasi masa kini mengenai sejarah, semangat kebangsaan, feminisme, dan nilai-nilai positif lainnya. Teks buku dari lukisannya dinarasikan oleh aktivis dan penulis senior, Esthi Susanti Hudiono, yang pernah dinobatkan sebagai kandidat Nobel pada tahun 2005. Proyek ini juga melibatkan pakar filsafat dan sastra Dr. Toeti Heraty Noerhadi, Jurnal Perempuan, Museum Pergerakan Wanita, Institut KAPAL Perempuan, dan tokoh-tokoh penting di berbagai bidang.

Seruni Bodjawati

Seruni terinpirasi untuk melakukan ini karena ingin menjadikan karya seni sebagai artefak penting dalam catatan sejarah Indonesia, serta menjadikannya sarana edukasi mengenai semangat kebangsaan, feminisme, perjuangan para pahlawan, dan nilai-nilai positif lainnya.

Seruni Bodjawati

Tantangan yang dihadapinya ialah berusaha tetap menjaga konsistensi dan terus belajar hal baru sebab melukis bagi Seruni bukan sekadar membuat karya seni, tetapi merupakan upaya pencarian diri dan pendalaman terhadap sukma sejati. Kedepan Seruni akan terus menciptakan inovasi dan karya-karya seni yang menginspirasi dan mengedukasi masyarakat seluas mungkin, antara lain membangun museum seni rupa. Almarhum ayahandanya sudah mengoleksi karya-karya seniman Indonesia dimana ada 700-an karya kanvas dan ribuan karya berbagai media. Ada karya Hendra Gunawan, Basuki Abdulah, Kartono Yudhokusumo, Kartika Affandi, Ida Bagus Nyana, Edi Sunaryo, Heri Dono, dan lain-lain. Seruni juga ingin membuat museum buku terutama untuk buku-buku sastra, novel dan puisi serta naskah drama yang jumlahnya sudah 10.000 lebih dikoleksi.

Seruni Bodjawati

Bagi Seruni, hidup ini cuma sekali, jangan pernah ingin menjadi seperti orang lain. Jadilah diri sendiri. Jangan berkarya seperti pelukis besar manapun. Temukan jati diri sendiri dan jadilah orang yang berguna bagi masyarakat seluas mungkin. Lebih baik menjadi kepala cacing daripada menjadi buntut naga.

Tokoh yang menginspirasinya pun beragam, mulai dari Vincent van Gogh, Andy Warhol, Albert Camus hingga Bill Gates dan Elon Musk. Ia kagum pada orang-orang yang punya spirit bertarung tinggi serta totalitas menggulati nasib dan jalan hidup.

Seruni Bodjawati

Ada kisah hidup yang ingin dibagikan Seruni kepada kaum muda agar teruslah belajar dan memperluas wawasan dan pengalaman. Belajar itu tidak hanya di kampus. Yang jauh lebih penting adalah di bangku kenyataan hidup. Menyelami napas masyarakat. Mengembara di hutan belantara dunia batin kita sendiri. Belajar itu kewajiban seumur hidup. Rumah tempat saya tumbuh dewasa sangat mirip dengan universitas, kami menamakan Universitas Rumah Tangga. Bahkan kamar tidur saya dulu juga saya jadikan universitas yang saya beri nama Universitas Kamar. Di setiap sudut dan sisi rumah keluarga saya ada tumpukan buku-buku. Berjalan ke mana saja akan ketemu buku. Dengan begitu penghuni rumah ditantang terus menerus untuk membaca dan belajar. Kami tak punya barang-barang mewah. Tapi banyak lukisan, film-film dan buku-buku bermutu serta fasilitas untuk pengembangan intelektualitas dan cita rasa artistik.

Sampai sekarang telah banyak penghargaan dan karya yang disematkan padanya antara lain:

Awards:

2016: – 50 Putera Puteri Terbaik Indonesia, The Power of Climatrix, Elunar Publisher.

2015: – First Winner of “Special Region of Yogyakarta Museum Ambassador 2015” by Governor of Special Region of Yogyakarta and Department of Culture in Special Region of Yogyakarta.

– Perempuan Keren Indonesia Pilihan TRANS TV, Televisi Transformasi Indonesia.

2013: – Cultural Preservation Award for Ensuring The Continuation of Wayang in Global Contexts by Rumah Wayang Indonesia.

2012: – Inspirational Woman to Other, La Femme Awards 2012 by Leo Club Monas Family (Lions Clubs International).

– Indonesia’s Most Inspiring Woman in Art and Culture, Kartini Awards 2012 by Kartini Magazine and Indonesian First Lady Ani Yudhoyono.

–  Honorary Award from Director General of Higher Education of the Ministry of Education and Culture, Indonesia.

– The Best High-Achieving Student by Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta and the Rector of ISI, Prof. Dr. AM. Hermien Kusmayati, S.S.T., S.U.

2011: – The Best Painting Artwork Dies Natalis XXVII Indonesian Institute of Arts Yogyakarta.

– Awarded as The Most Successful International Visual Artist under 20 by La Société des Artistes Contemporains, France.

-Top 12 The Best Artwork Bazaar Art Award 2011, Harper’s Bazaar Indonesia and Vanessa Art Link Jakarta.

– Elected as one of Indonesian Young Heroes by Aplaus The Lifestyle Indonesia.

2010: – The Best Painting Artwork, Dies Natalis XXVI, Indonesian Institute of Art Yogyakarta.

2010: – The Best Watercolor Painting, Indonesian Institute of Art Yogyakarta.

2010: – The Best Sketch, FSR Indonesian Institute of Art Yogyakarta.

1997: – Selected Painter: Local Government of Yogyakarta and Kyoto Japan Painting Cooperation.

1995-1997: – The champion of 15 children art competitions in Jogjakarta and Central Java.

 

Exhibitions (selected):

2018:

“Affordable Art Fair Hong Kong”, Hong Kong Convention and Exhibition Center, Hong Kong.

– “Affordable Art Fair Singapore”, F1 Pit Building, Singapore.

– “Pameran Koleksi Tetap Museum”, Museum Wayang Beber Sekartaji, Yogyakarta.

2017:

“CLASH, Divergent Artistic Discussion”, Siger Gallery, London, England.
“MUSEOTOPIA”, Galeri Pascasarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

“INDONESIA  DAMAI: Peran Peranakan dalam MengIndonesia”, MaxOne Dharmahusada, Surabaya.

“The Madness of Art: Giant Paintings of The Lunatics”, Galeri RJ KATAMSI ISI, Yogyakarta.

“Amor Fati in Absentia”, Greenhost Boutique Hotel, Yogyakarta.

“MOVE ART #3”, Tahun Mas ArtRoom, Yogyakarta.

“AKSI ARTSY #2 ”, Galeri RJ KATAMSI ISI, Yogyakarta.

2016:

“Artist Toys”, Lite-Haus Gallery, Berlin, Germany.

“FKY 2016: PAPERU”, Taman Budaya, Yogyakarta.

“RUKUN IMAN”, TahunMas ArtRoom, Yogyakarta.

“Let’s Talk About Culture”, Ullen Sentalu Museum, Yogyakarta.

“Time is Love: International Video Screening”, Plateau Gallery, Berlin, Germany.

“Internet’s Black Market Yami-Ichi”, TATE Modern, London, England.

“Rupa-Rupa Warnanya”, Tahun Mas Art Room, Yogyakarta.

“European Association of Social Anthropologists Biennial Conference 2016”, University of Milano-Bicocca, Italy.

“Cycle d’art Vidéo International & Performance 2016”, Galerie de la Voûte, Paris, France.

2015:

“FOOK: A Festival of The Arts”, Issyara Gallery, Hoboken, New Jersey, USA.

“Affordable Art Fair Milano 2015”, Superstudio Più, Milan, Italy.

“Art-chipelago: Pameran Seni Rupa Nusantara”, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

“Pameran Koleksi FSR ISI Yogyakarta”, Galeri Katamsi, Yogyakarta.

“Women’s Creativity in Indonesian Cinema”, Cultural Study Center Gadjah Mada University, Yogyakarta.

2014:

“Socio-Landscape”, National Museum of Cambodia, Preah Ang Eng, Phnom Penh, Cambodia.

“Hong Kong Contemporary Art Fair 2014”, The Excelsior, Causeway Bay, Hong Kong.

“Asian Aesthetic; Retrospective of Indonesia and Thailand Art”, Universiti Teknologi Mara Perak Kampus Seri Iskandar, Ipoh, Malaysia.

“Manifesto #4, Keseharian: Mencandra Tanda-Tanda Masa”, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

“Art in Dangerous Time”, Le Petit Versailles, New York, USA.

“Video Screening: Phantasmagoria “, Sunview Luncheonette, Greenpoint, Brooklyn, USA.

2013:

“International Contemporary Art Exhibition”, Art Gallery Le Logge Piazza del Comune, Assisi, Italy

“8th Spiral Channel: Art Exhibition and Film Screening”, Arte Studio Ginestrelle, Santa Maria di Lignano, Italy.

“Jiwa Ketok dan Kebangsaan: S. Sudjojono, Persagi dan Kita”, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

“Imagining Indonesia: Tribute to S. Sudjojono”, Tonyraka Art Gallery, Ubud, Bali.

“Silahturahmi #2: Seni Rupa sebagai Jalan Persaudaraan”, Bentara Budaya Jakarta.

“Re_existence, An English Poetry Book Launching Written by Jiwangga Diwangkara & Illustrated by Seruni Bodjawati’, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

“To Earth with Love: Art Exhibition & Film Screening”, Art Point Gallery, Prievidza, Slovakia.

“To Earth with Love: Art Exhibition & Film Screening”, UNITED DESIGNS in St. Louis, Missouri, USA.

“Padmanaba Dedicart #2: Talkshow with Seruni Bodjawati”, Jogja National Museum, Yogyakarta.

“Non Expression”, Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta.

“Pameran Tunggal Tugas Akhir”, Sasana Aji Yasa Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

2012:

“Global Art Project (Indonesia & Korea) – Frida Kahlo Love & Tragedy by Seruni Bodjawati & Higi Jung”, Ewho Gallery, Seoul, South Korea.

“ARTJOG 2012: A Gaze upon Indonesian Contemporary Art”, Taman Budaya Yogyakarta.

“Harmonia & Diverzitas”, Templom Galeria, Eger, Hungary.

“Le Soleil de Minuit”, Galerie Lefèvre Paris, France.

“Pesta Perupa Menggores Jogja”, XT Square Yogyakarta.

“Hydropirates: TK Fest #3”, Galeri ISI Yogyakarta.

2011:

“Survey III: For Whom The Bell Tolls”, Edwin’s Gallery, Jakarta.

“Bazaar Art Jakarta 2011”, Harper’s Bazaar Indonesia- Vanessa Art Link, The Ritz – Carlton Jakarta Pacific Place, Jakarta.

“The Best of the Best”, Tujuh Bintang Art Space, Yogyakarta.

“Art of Motorcycle: Tribute to Nur Kholis”, Taman Budaya Yogyakarta.

“Imaji Ornamen: Pameran Nusantara 2011”, Galeri Nasional, Jakarta.

“Revolution of Indonesia”, Art Front Gallery, Singapore.

“Art in Transit”, the 1st International Graphic Art Festival, City of Cuenca, Spain.

L’exposition «La Vie de Bohème», La Maison des Artistes Contemporaines-Galerie Lefèvre , Paris, France.

“Art To Say The Truth” FKY XXIII, UPT Galeri ISI Yogyakarta.

“Holiday with Mata Angin”, Sudana Gallery, Bali.

“Dies Natalis XXVII ISI Yogyakarta “, UPT Galeri. Institut Seni Indonesia Yogyakarta

“Inspirational Points”, Contemporary Asian Arts Exhibition, Rajiv Gallery, Hyderabad, India.

“Disambar Desember #4”, UPT Galeri Institut Seni Indonesia Yogyakarta

“Srikandi #2: Pameran Kolaborasi Seniwati ISI Yogyakarta”, Taman Budaya Yogyakarta.

2010:

“Art for Our Life”, Gallery of the Ráday Könyvesház Budapest & Kis Zsinagóga Gallery Eger, Hungary.

“Art Towards Global Competition”, Langgeng Gallery Magelang-Galeri ISI Yogyakarta.

“Dreams”, Contemporary Asian Arts Exhibition, Rajiv Gallery, Hyderabad, India.

“Drawing Lovers #2” UPT Galeri Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

“Jogja Art Share”,  Jogja National Museum, Yogyakarta.

“Sketsa II”, Gedung Seni Lukis Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

“Dies Natalis XXVI ISI Yogyakarta”, Seni Murni Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

“Pameran Lukis Cat Air”, Gedung Seni Lukis Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

“ITB Art Fair”, Institut Teknologi Bandung.

“Disambar Desember #3”, UPT Galeri ISI Yogyakarta.

Leave a Reply

tambo-co-id