Eva Bachtiar: Insinyur, Social Entreprise, dan Inovasi Sosial untuk Negeri

Sosok inovator sosial yang akan kita ulas kali ini adalah Eva Bachtiar. Perempuan yang mempunyai passion dalam social enterprise ini adalah lulusan S1 Teknik Industri ITB, berpengalaman sebagai insinyur pertambangan bawah tanah, fasilitator pendidikan dan konsultan pembangunan. Mari kita simak kisah hidupnya yang menginspirasi dan inovasi-inovasi yang dilakukannya. 

Garda Pangan

Indonesia adalah negara pembuang sampah makanan terbesar kedua di dunia, sementara 19,4 juta masyarakat Indonesia masih kelaparan. Tidak hanya itu, sampah makanan juga punya dampak ekonomi dan lingkungan yang masif, namun sayangnya belum terlalu banyak mendapat perhatian.

Atas concern inilah, Eva dan kawan-kawannya membentuk Garda Pangan, sebuah startup dan social enterprise yang fokus di bidang food waste, dengan cara bekerja sama dengan industri hospitality dan industri makanan (restoran, kafe, hotel, bakery, retail dan distributor makanan, dll) dimana mereka dapat menyalurkan makanan berlebih yang biasanya terbuang, untuk disalurkan kepada masyarakat pra-sejahtera yang membutuhkan.

Garda Pangan

Servis yang ditawarkan Garda Pangan adalah sustainable and responsible food waste management untuk industri hopsitality dan industri makanan, dimana makanan berlebih yang dihasilkan oleh industri makanan tersebut akan disortir dan diperiksa kembali kualitasnya. Makanan yang layak akan dikemas ulang, lalu dibagikan secara bermartabat kepada masyarakat pra-sejahtera yang membutuhkan, sementara makanan yang sudah tidak layak akan diolah menjadi pakan ternak dan kompos.

Garda Pangan

Hingga saat ini Garda Pangan telah mengumpulkan 52.685 porsi makanan, atau setara dengan 7,9 ton potensi sampah makanan terbuang kemudian menyalurkannya kepada 43.590 penerima manfaat.

Garda Pangan

Eva percaya pendekatan bisnis inovatif yang ditawarkan Garda Pangan dapat mengurangi permasalahan sampah makanan, sekaligus memberikan akses pangan kepada masyarakat pra-sejahtera serta memberi dampak positif bagi lingkungan Indonesia.

StarSide Edukasi

Menurut data United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNISDR), Indonesia merupakan negara paling rawan bencana di dunia. Itu berarti, kita akan terus menghadapi resiko bencana itu ke depannya. Atau dengan kata lain, kita tidak bisa mengelak, melainkan harus berdamai dengan resiko bencana ini. Sayangnya, kita orang Indonesia lebih sering diajarkan untuk nrimo dibanding diajarkan keterampilan untuk menghadapinya. Padahal sejarah membuktikan bahwa kesiapan bencana dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa dan mengurangi kerugian.

Star Side

StarSide merupakan social enterprise yang fokus pada edukasi kebencanaan untuk anak-anak. StarSide sendiri merupakan anagram dari “Disaster”. Harapannya, meskipun kita tak bisa mengelak dari ancaman dan resiko bencana di negara kita, kita selalu bisa membekali diri dengan ilmu dan kesiapsiagaan.

StarSide

Pendidikan kebencanaan StarSide dilakukan lewat sebuah event sehari. Di dalam event tersebut, terdapat pos-pos yang masing-masing mengajarkan pengetahuan dan keterampilan kebencanaan lewat permainan dan simulasi.

Konsep dasar pendidikan bencana yang digunakan diadaptasi dari Jepang dan Thailand, dengan menggunakan gamifikasi dan permainan kreatif yang seru dan menyenangkan serta disesuaikan dengan kearifan lokal Indonesia. Jadi alih-alih belajar kebencanaan lewat penyuluhan yang membosankan, teoritis, berbelit-belit, susah dipahami, dan tidak membumi, yang menjadikan edukasi bencana menjadi tidak efektif; anak-anak dapat belajar bencana dalam suasana yang rileks dan menyenangkan.

StarSide

Sejak Agustus 2016, StarSide telah menyelenggarakan 13 event edukasi kebencanaan di Surabaya, Sidoarjo, Aceh, dan Sumatra Utara; dengan total 1.238 peserta dan telah mendapatkan ulasan yang sangat positif baik dari pihak sekolah, organisasi kebencanaan, pemerintah, dan media.

Alang-Alang Zero Waste Store

Indonesia saat ini berada dalam kondisi darurat sampah plastik, dimana kita menjadi adalah negara penyumbang sampah plastik terbedar kedua di dunia. Sampah plastik ini kebanyakan berakhir di lautan, mencemari biota laut, termakan oleh fauna laut, dan terbelah menjadi mikroplastik yang berbahaya. Salah satu penyumbang sampah plastik terbesar berasal dari penggunaan plastik sekali pakai serta berbagai kemasan produk yang hanya berakhir di tempat sampah. Kita sebagai konsumen sesungguhnya punya andil mengurangi sampah ini dengan menerapkan gaya hidup zero-waste.

Alang-Alang Zero Waste Store menawarkan konsep dan nilai baru dalam berbelanja, dimana semua produk yang dijual tidak menggunakan kemasan sama sekali dan dijual dalam bentuk “bulk”. Pembeli harus membawa wadah sendiri saat berbelanja, atau bisa menggunakan kemasan ramah lingkungan seperti daun jati atau besek yang disediakan. Konsep ini juga mendorong pembeli untuk berbelanja hanya dalam jumlah yang dibutuhkan, sehingga dapat mengurangi kemungkinan terbuang. Harga yang dikenakan otomatis juga hanya produk, tanpa komponen harga kemasan.

Alang-alang Zero Waste

Produk-produk yang dijual adalah aneka produk organik, yang tidak hanya dibudidayakan dengan respek pada bumi, tapi juga sebisa mungkin diproduksi oleh produsen lokal untuk membantu meningkatkan perputaran ekonomi di Indonesia. Alang-Alang Zero Waste Store hanya men-supply barang yang diproduksi secara etis dan fair-trade. Dengan hadirnya zero-waste store ini, Eva berharap dapat memberikan pengalaman belanja tanpa rasa bersalah pada ibu bumi kita tercinta. Kita bisa tengok Instagramnya @alangalang_zerowaste. So far, masih banyak mimpi-mimpi yang akan dikembangkan Eva di masa yang akan datang, antara lain semacam cloth bank, untuk mengurangi excessive fashion shopping. Namun demikian, untuk saat ini Eva ingin fokus di ketiga hal yang sedang dikembangkan dulu, yang itu pun sudah cukup menguras energinya.

Tantangan yang dihadapinya saat ini adalah meninggalkan pekerjaan dan hidup mapan untuk memulai project-project yang dibangun dari nol, dengan idealisme sendiri dimana kebanyakan membawa konsep-konsep baru yang belum familiar di kalangan publik sehingga perlu usaha lebih untuk mengedukasi masyarakat. Tapi disitulah justru serunya, katanya.

Eva adalah salah satu sedikit insinyur pertambangan wanita yang pernah berpikir – saya telah mencapai kehidupan yang mapan dengan jalur karier yang baik, menghabiskan 6 tahun bekerja di salah satu perusahaan pertambangan multinasional tembaga dan emas terbesar di dunia. Sampai pada suatu pagi yang indah, ia bangun dan menyadari bahwa ia ingin melakukan sesuatu yang lebih besar dengan hidupnya selain dari “hanya” bekerja. Lantas ia mengundurkan diri dan memutuskan untuk menjadi guru di daerah terpencil, di suatu desa nelayan di Sulawesi Tengah, Indonesia.

Garda Pangan

Ia tidak pernah menyesali keputusannya untuk menukar gaji tinggi dengan cinta, kehormatan, dan aktualisasi diri. Bahkan sebenarnya, itu adalah keputusan terbaik yang pernah dibuat sepanjang hidupnya. Di sisi lain, memiliki kesempatan untuk mengamati Indonesia dari perspektif akar rumput adalah pengalaman yang sangat berharga yang telah mengubah caranya memandang kenyataan di negeri ini. Eva datang untuk menyaksikan secara langsung dan menyadari bahwa Indonesia memang negara yang makmur, namun dikelola dengan buruk. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara yang kuat, tetapi sebagian besar orang terlalu sibuk menunjukkan jari mereka kepada orang lain. Baginya ini adalah panggilan jiwa. Alih-alih mengutuk kegelapan, Eva memilih untuk menyalakan lilin. Einstein pernah berkata, hanya hidup yang dijalani untuk orang lain adalah hidup yang berharga. Eva berujar bahwa demi segala hal yang menjadikan saya siapa saya, sampai pada titik ini, tidak ada yang saya inginkan dalam hidup saya lebih dari seberapa banyak saya ingin menjadi berguna bagi orang-orang, dan terutama untuk negara saya. Saya ingin menjalani kehidupan yang bermakna, mengetahui bahwa setiap napas yang saya ambil adalah untuk menyentuh kehidupan lain. Saya ingin menggunakan hasrat pribadi saya untuk tujuan yang lebih besar.

Eva selalu terinspirasi melihat perempuan-perempuan kuat, yang berdikari dan menyuarakan opininya, menjadi diri sendiri di tengah stigma dan ekspektasi-ekspektasi masyarakat terhadap perempuan. Mereka bisa siapa saja seperti astronot perempuan, politisi perempuan, ibu-ibu rumah tangga yang mendedikasikan hidupnya untuk keluarganya, atau Gojek perempuan yang Anda tumpangi.