Apa itu Creative Hub (C-Hub)?

C-Hub Fisipol UGM adalah sebuah ekosistem belajar yang mempertemukan berbagai disiplin untuk mengelaborasi dan mempertajam gagasan-gagasan kreatif yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Yuk simak info selengkapnya.

[media-credit name="Creativ Hub" align="alignleft" width="825"][/media-credit]

 

Dengan pendekatan transdisipliner, C-Hub Fisipol UGM hadir sebagai ruang dialog para generasi muda untuk menciptakan peluang dari tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. Peluang tersebut dikembangkan dengan spirit kewirausahaan sosial (sociopreneuship) yang telah teruji memberikan dampak sosial sekaligus ekonomi. Satu pertanyaan besar pun muncul, kenapa Fisipol UGM harus mendirikan Creative Hub?

  • Pertama, mengutip Bornstein dan Davis (2010) social entrepreneurship merupakan proses atau aktivitas yang dilakukan oleh warga (citizens) untuk menyelesaikan berbagai permasalahan sosial seperti ketimpangan pendapatan, wabah kelaparan, iliterasi, korupsi, dan lain-lain. Dari pengertian tersebut maka seorang wirausahawan sosial bukan sekadar mencari untung (taking profit) semata tetapi ada aktivisme sosial yang inheren dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh wirausahawan sosial. Dengan kata lain, social entrepreneurship adalah salah satu bentuk baru dari aktivisme sosial. Aktivisme sosial sendiri adalah bentuk aksiologis dari ilmu-ilmu yang diajarkan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM.
  • Kedua, saat ini Perguruan Tinggi menghadapi dua tantangan besar. Tantangan pertama, ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja atau pasca kampus saat ini, baik dalam segi kuantitas maupun kualitas. Ijazah dan indeks prestasi akademik yang berguna sebagai pembuktian kompetensi seorang sarjana, saat ini bagi banyak pihak hanya bersifat sebagai pelengkap saja. Kemampuan riil yang bersifat portofolio keterlibatan peran dalam sebuah pekerjaan saat ini lebih diperhitungkan dibandingkan dengan bukti ijazah konvensional. Hadirnya Creative Hub di Fisipol UGM salah satunya adalah untuk memberikan kemampuan riil bagi para mahasiswa untuk menghadapi tantangan dunia pasca kampus.
[media-credit id=184 align="alignleft" width="765"][/media-credit]

Tantangan kedua, produksi pengetahuan yang selama ini dilakukan oleh Perguruan Tinggi belum mampu menjawab tantangan riil yang ada di masyarakat. Pengukuran standar kualitas mutu perguruan tinggi seperti tertera dalam berbagai label (seperti World Class UniversityResearch University, dll) yang selama ini berpaku pada standar akademik yang cenderung kuantitatif (seperti jumlah publikasi, sitasi, dll) belum terbukti berkorelasi positif dengan kemampuannya meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Tujuan lain dari didirikannya Creative Hub di Fisipol UGM adalah memproduksi pengetahuan yang secara praktik dapat meningkatkatkan taraf hidup masyarakat serta menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat dengan menggunakan kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) sebagai alatnya.

Adanya Creative Hub di Fisipol UGM juga berperan sebagai sebuah laboratorium ilmu sosial dan ilmu politik bagi para mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah mereka dapatkan di dalam kelas. Hal ini sangat penting mengingat, tidak seperti mahasiswa ilmu alam/agro/kesehatan/teknik, mahasiswa ilmu sosial dan ilmu politik jarang bahkan beberapa tidak punya sama sekali mata kuliah yang sifatnya praktikum sehingga terkadang menimbulkan kesan bahwa mahasiswa ilmu sosial dan ilmu politik hanya bisa bicara saja dan tidak bisa menerapkan ilmu yang mereka dapat di kelas.

Creative Hub mempunyai dua program andalan yaitu Talent Pitching atau Program Inkubasi dan Akademi Kerisausahaan Masyarakat (AKM). Talent Pitching merupakan program inkubasi dalam mendampingi project bisnis sosial yang dilakukan mahasiswa dan freshgraduate dari bermacam lintas disiplin ilmu dalam memecahkan berbagai masalah sosial di masyarakat dengan mengutamakan pemanfaatan teknologi digital.

[media-credit name="Creativ Hub" align="alignleft" width="1280"][/media-credit]

Sedangkan program AKM dikembangkan C-Hub Fisipol dalam rangka melahirkan gerakan sosial kewirausahaan nasional berbasis pedesaan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kepada para sarjana yang belum terserap dalam bursa kerja, untuk dapat mengambil andil dalam pembangunan masyarakat melalui pendampingan masyarakat untuk pengembangan wirausaha, sekaligus mendorong sarjana untuk nantinya mengembangkan aktifitas sociopreneurship.

Gagasan program AKM ini berangkat dari sejumlah pertimbangan. Pertama, besarnya angka pengangguran terdidik. Data terbaru menunjukkan, dalam satu tahun terdapat sekitar 800.000 lulusan sarjana, namun tidak semuanya terserap dunia kerja dan/atau memiliki usaha sendiri. Estimasi per tahun, ada tambahan pengangguran terdidik sekitar 66.000. Untuk itu diperlukan langkah terobosan untuk mendidik calon wirausaha-wirausaha baru. Kedua, rendahnya Global Enterpreneurship Index (GEI) Indonesia. Saat ini peringkat GEI berada di urutan 97 dari 136 negara. Peringkat Indonesia bahkan kalah dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara (mis. Singapura, Thailand, Malaysia, dan Vietnam). Salah satu penyebab rendahnya GEI tersebut adalah kecilnya presentase jumlah wirausaha dibandingkan keseluruhan penduduk sebagai akibat dari rendahnya ketrampilan dan ethos kewirausahaan. Untuk itu, langkah shortcut dan terobosan sangat mendesak dalam rangka mengejar ketertinggalan ini. Dan ketiga, di tengah situasi yang tidak ideal di atas, bangsa Indonesia memiliki banyak potensi komoditas yang tersebar di puluhan ribu desa, yang belum dikelola optimal. Masyarakat di banyak desa Indonesia menunjukkan geliat pengembangan ekonomi, namun di banyak desa lainnya yang memiliki potensi yang besar justru terjebak dalam situasi kemiskinan. Berdasarkan data Kemendes, saat ini tercatat setidaknya 22.000 desa masuk kategori tertinggal. Untuk itu, diperlukan adanya intervensi positif ke pedesaan, salah satunya melalui pengiriman sarjana wirausaha untuk bekerja bersama dengan rakyat.

Program AKM akan terbagi dalam 3 modul atau tahap, yaitu

  • Cloning sociopreneurship
  • Deployment sarjana ke pedesaan
  • ff-takers produk wirausaha

Untuk tahap ini, AKM fokus pada program cloning atas berbagai bentuk wirusaha berbasis pedesaan yang sukses atau sociopreneur pedesaan. Prinsip dari program cloning ini; sejumlah sociopreneur pedesaan sukses akan menjadi model dan mentor bagi para sarjana yang terseleksi dalam rangkaian pelatihan sociopreneurship. Dalam implementasinya, program cloning dan keseluruhan AKM akan melibatkan kelompok bisnis, filantropi, pemerintah pusat dan daerah, sarjana baru lulus, dan komunitas internasional. Melalui AKM, C-Hub Fisipol UGM mendorong lahirnya para Sarjana Pendamping Kewirausahaan yang siap diterjunkan ke desa-desa untuk menularkan berbagai pengetahuan, ketrampilan, dan jejaring yang dibutuhkan untuk pengembangan wirausaha. Sarjana pendamping juga akan bekerja secara riil bersama masyarakat untuk mengembangkan dan melaksanakan kewirausahaan yang selaras dengan potensi dan kebutuhan masyarakat setempat.

Program AKM ini akan membuka kesempatan bagi sarjana baru lulus yang belum bekerja dan/atau memiliki usaha untuk ikut dalam program pelatihan dan mentorship, sebelum nantinya diterjunkan ke pedesaan. Secara teknis, tahapan modul cloning AKM akan meliputi pendaftaran dan seleksi, inkubasi (training sociopreneurship dan pendampingan masyarakat selama beberapa hari), pelatihan kebangsaan, dan dialog kebangsaan yang melibatkan beberapa kementerian. Kami mengundang calon-calon sociopreneurship muda untuk bergabung dalam program ini.